Thursday, July 14, 2016

Grass Grows By Inch : Ketika Rumput yang Terinjak Terus Bertahan Hidup Di Tengah Kerasnya Injakan Kaki Para Manusia

Judulnya aneh? Yakin? Hehe....
Karena kali ini Yuki mau membahas salah satu novel yang merupakan karya dosenku. Judulnya sama dengan judul postingan kali ini : Grass Grows By Inch. Udah pada mulai penasaran? Langsung aja ya...


Tokoh utama dalam novel ini adalah Arif yang melakukan perjalanan ke kota dengan satu tujuan yaitu mencari pendidikan tertinggi di bangku kuliah. Keputusannya terbilang nekad karena yang mendukungnya hanyalah nenek yang ia panggil Simbah. Sementara ibunya dan pamannya khawatir dengan tindakan nekad Arif. Khawatir jika Arif tidak sanggup menghadapinya dan berhenti ditengah jalan.

Perjalanan menjadi seorang mahasiswa jangan dibayangkan mudah, mulus, lancar. Banyak batu yang menghalangi jalannya. Mulai sejak pelaksanaan upacara penerimaan mahasiswa baru yang banyak menumbangkan mahasiswa di stadion olahraga, menghadapi rasa rindu yang luar biasa pada ibu dan simbah Arif di desa,masalah keuangan yang pelik membuatnya rela tinggal di gudang masjid, bahkan menjadi agen arem-arem, tukang fotocopy, hingga agen majalah. Semuanya dilakukan Arif tanpa rasa mengeluh.

Kampus tempatnya kuliah mengajarkan banyak hal termasuk bagaimana bersimpati pada teman-temannya,menghadapi orang-orang yang membencinya,hingga kisah uniknya yang harus berhadapan dengan seorang dukun demi menyelesaikan masalah kasus pencurian barang. Arif belajar menjadi lebih dewasa, menghadapi orang itu lebih kompleks tidak seperti menghadapi hewan yang masih bisa dipelajari disaat kuliah, di kandang, maupun lewat diskusinya melalui dosen-dosennya.Manusia itu liar, bisa berubah setiap saat bahkan menjadi mutan. Bukan mutan makhluk aneh,tapi mutan atas sikapnya yang jauh bahkan bisa dikatakan turun derajatnya sebagai makhluk terdidik.

Sebuah kerja keras yang bukan hanya dilalui dengan tetesan keringat tapi juga rasa malu. Bagaimana tidak? Saat Arif harus berjuang mendekati perempuan yang dia sukai. Entah berapa kali dia harus mempunyai alasan untuk berkunjung ke kos an perempuan itu. Kerja kerasnya juga membuahkan hasil dengan berangkatnya dia ke London karena mendapatkan beasiswa dan berkesempatan kuliah disana. Tentunya yang paling utama dia bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu.
Senengnya bisa beli buku ini, support buat penulis2 yang mau menerbitkan karyanya secara indie


Buku ini menawarkan kelebihan berupa bahasa yang digunakan ringan meski ada beberapa istilah seputar dunia peternakan masuk disini. Keramahan penulis membuat istilah-istilah peternakan yang disajikan jadi mudah dipahami. Keunikan novel ini dalam penamaan tokohnya sederhana serta menggunakan singkatan bagi nama dosen seperti Pak TSG, Bu RIP, dan penggunaan kata ganti orang pertama membuat kisah Arif ini menjadi lebih hidup ketika dibaca.

Kekurangannya terdapat pada kertas yang digunakan gelap dan cukup mengganggu disaat menikmati buku ini. Alur cerita dari tiap judul juga terkesan meloncat serta lebih banyak diwarnai khayalan dari tokoh utamanya.

Grass Grows By Inch merupakan buku yang sangat cocok bagi mahasiswa baru maupun yang masih bersekolah di kelas XII serta masih bingung jurusan peternakan itu seperti apa. Mengapa?Karena banyak hal seputar peternakan dibahas disini,
kehidupan seorang mahasiswa, serta perjuangan yang harus dilalui disuguhkan dalam novel fiksi ringan. Saran buat penulisnya untuk lebih gencar lagi dalam mengenalkan bukunya ke pembaca karena masih banyak yang belum mengenal novel ini.

Judul buku : Grass Grows By Inch

Pengarang : Bambang Trisetyo Eddy

Penerbit    : Indie Publishing

Tahun terbit beserta cetakannya : Cetakan Pertama, Januari 2016

Harga buku : Rp. 50.000

Semoga ulasan Yuki tentang buku ini bisa membantu pembaca.
Buku ini belum diedarkan di toko buku offline dan jika berminat membelinya bisa langsung ke Fanspage FB Grass Grow By Inch, disana sudah ada tata cara pembeliannya.

Sunday, July 3, 2016

Revisi Kelar....Hati Bahagia Hahaha

Setelah revisian cover buat kumpulan cerpen ini selesai rasanya seneng buanget....berasa terbang keatas langit haha

Karena cover yang baru benar-benar mencerminkan aku banget sekaligus cerita didalamnya. Juga tampilannya yang lebih seger buat dilihat mata. Meski yang masih bikin deg-degan adalah pengiriman bukunya ke rumah. Karena revisian dan mepet mau libur lebaran akhirnya pengiriman dilakukan saat pertengahan juli.

Disitu bikin sedih.harapannya minggu ini sebelum lebaran udah sampe ke rumah satuu aja dulu lah gak apa. Tapi karena dikirimnya langsung 15 buku makanya baru bisa dilakukan besok pertengahan bulan juli. Kalo memang iya sekarang udah muncul mau buat pamer pas di acara keluarga hahaha (awas ini ketawanya ngeri dah bisa bikin pingsan).

Pamer dah!

Biarin ah!

Makanya sampe sempet tanya ke temen yang merekomendasikan ke penerbit ini. Malah ternyata punyaku terhitung lebih cepet jadi. Kalo bukunya udah jadi Itu bisa buat kamuflase juga biar nggak ditanyai : KAPAN NIKAH? Pas di acara keluarga. Kan sebelum ditanyai begitu lebih baik langsung bilang “Eh aku sdh menerbitkan buku kumpulan cerpen lhoo” tanggapannya kan seputar itu dan lupa mau tanya “KAPAN NIKAH”

Daripada udah terlanjur ditanyai “KAPAN NIKAH” trus pura-pura pingsan kan gak banget

Ditanya “KAPAN NIKAH” trus pura-pura kesurupan mbah mbah kan juga gak mungkin...,malah bikin susah orang ntar

Kenapa malah bahas pertanyaan “KAPAN NIKAH” ya haha...ya sudahlah mari kita tutup tulisan yang absurd ini.

Bagi yang mau pre order buku kumpulan cerpen saya berjudul “Letter 4 Season” masih bisa lho dan untuk cetakan pertama tinggal 6 buku lagi. Apa sih bedanya dengan cetakan berikutnya? Tentunya ada bonus spesial lho di cetakan pertama ini hehe...bisa komen atau kirim email langsung saja untuk pemesanannya. Harganya 35 ribu (belum ongkir ya) khusus semarang free ongkir lho...ayo buruan!! Sebelum abis...


Wednesday, June 29, 2016

akhirnya....ke Richeese Factory juga

Edisi lagi bosen dirumah ini ceritanya. Setelah beberapa hari gak kerja dan muter kesana kesini cari kerjaan baru lagi (termasuk sibuk mempromosikan barang dagangan dan persiapan buat kumpulan cerpen yang udah mau dicetak) belum lagi adek yang minta jalan-jalan (dan aku juga lagi pengen jalan-jalan) akhirnya kita jalan. Ya nggak jalan pake kaki beneran sih naik sepeda motor.

Trus kemana dong?kan puasa, capek, lemes

Tentunya jalan-jalan sambil ngabuburit lah ya, kali ini aku dan adekku iseng ke Richeese Factory. Sebetulnya kita kesana telat sih karena saatnya lagi booming kita gak tertarik kesana. Kalo pas gak booming kita justru kesana. Emang kita bukan anak-anak kekinian tapi ketelatan hahahaha (eh gak boleh ketawa lebar).
Isinya apa saja sih?

Seperti retoran fast food lainnya ya tau lah ada ayam,nasi,sambel. Eeh tapi disini beda lhoo. Ada saus kejunya, dan minumannya bukan softdrink tapi teh rasa buah dan sari kelapa muda. Nggak itu aja mereka juga menyediakan ayam puedes pol (bukan pedes dari sambel ya tapi memang ayamnya yang dibuat pedes dari bumbunya). Tentunya di Richeese Factory itu free Richeese wafer disetiap pemesanan paket apapun.

Berasa jadi anak kecil pas kesana haha….gak tau kenapa padahal suasananya ya biasa aja. Ini nih penampakan dari menu yang aku pesen. Combo 2 dengan minuman sari kelapa muda (tapi rasanya kayak ada susunya gitu deh). Tempatnya gak terlalu padat banget jd cocok kalo buat bukber bareng temen. Kalo di semarang ada di jalan S.Parman dan di jalan mana (mboh lupa).


Ya gitu dah jalan-jalan kali ini meski gak yang jauh-jauh cukup buat ngabuburit sekalian nyobain di Richeese Factory tu kayak apa. Dan yang lebih penting lagi udah gak KUPER (KURANG PERGI) karena udah kesampaian ke sini (karena tiap hari jaga toko terus).

Anyway...masih dibuka lho open order buku pertamaku “Letter 4 Season” untuk cetakan pertama. Sekarang tinggal 8 buku lagi. Mari yang mau order masih bisa karena cetakan pertama ini spesial hanya 15 buku dan sekarang udah tinggal 8 buku. Selain itu juga ada bonusnya ya....(masih rahasia bonusnya apa)

Sunday, June 26, 2016

Antara resign dan jadi penulis (Beneran)

Yup itu judul beneran dan nggak main2. Yes aku resign dari kerjaan.bukan masalah kerja di bank haram dan aku memutuskan keluar begitu saja... NO!! Memang ada alasan lainnya yang membuatku lebih baik resign daripada bertahan.

Pertama,karena memang banyak tekanan.bukan masalah target yang selalu mengejar bahkan rasanya buat tidur nggak nyenyak. Tapi juga tekanan sosial disana. Ketika ada masalah sengaja dilarikan ke aku dan dibuat suasana aku nggak bisa bergerak (Bukan trus jd patung). Entah kalau mau dihitung dg uang beneran sudah keluar uang berapa disana.So, daripada gila mending keluar aja. Saat ini masih berjuang mencari kerjaan baru yang sesuai dengan latar belakang pendidikanku dulu.

Kedua,karena saat ini lagi fokus dengan terbitan buku pertama Yuki. Iya daripada itu cerpen -cerpen banyak yang nganggur di laptop mending dikeluarkan aja dalam bentuk buku (Meski beberapa ada yg sudah pernah diposting di blog ini tapi belum puas kalo belum keluar cetakan bukunya). Tentunya terbitan buku pertama ini tidak lepas dari penerbit indie. Ceritanya pengen jadi penulis BENERAN nih. Mosok pura-pura penulis. Saat Ini masih proses menunggu hasil cetakannya dari penerbit sih.

Sebetulnya sudah keluar covernya tp dirasa kurang menjual. Seperti ini sih cover awalnya (Lihat gambar dibawah)


Dan banyak yg protes saat aku tanyakan ke teman2 entah kurang menjual,desainnya seperti buku diktat kuliah, warna terlalu gelap,dll.untungnya masih bisa minta revisian mengenai covernya.

Judulnya kok LETTER 4 SEASON? Yup memang ini cerpen utama yang diletakkan di halaman paling depan (Tentunya setelah kata pengantar ya). Ceritanya tentang seorang perempuan yang baru saja setahun ditinggal suaminya setelah dinyatakan suaminya meninggal dalam kecelakaan mobil.anehnya jenasah suaminya tdk ditemukan di TKP. Suatu ketika dia mendapatkan surat misterius yang tertulis nama suaminya. Benarkah suaminya yang sudah meninggal bisa mengirimkan surat padanya?

Selain Letter 4 Season masih ada lagi cerpen lainnya yang tentunya bisa dinikmati sambil santai di dalam buku ini.temukan kejutan dan kisah inspiratif lainnya.sedikit clue salah satu cerpennya ada yang menyinggung kejadian di negeri ini dan sempat booming di tahunnya (Lupa tahun berapa tp yg jelas kalau kalian suka mengikuti berita bakalan tahu dah peristiwa itu).

Sedikit catatan bahwa buku ini untuk sementara waktu tdk masuk ke toko buku dan hanya dipasarkan lewat blog ini dan media sosial. Akan ada 14 buah buku cetakan pertama yang bisa dipesan dulu mulai sekarang. Kalau memenuhi kuota 14 buku tadi nantinya dilakukan cetak ulang (Nggak bakalan kehabisan kok). Tentunya di 14 buku cetakan pertama ini bakalan berbeda dengan cetakan ulang (Sst... Ada bonus menariknya didalam buku ini).

Monggo bisa dipesan kalau melalui blog ini bisa komentar di bawah atau langsung kirim email (Biar lebih cepat karena notif email langsung masuk ke smartphone). Harganya? 35 Ribu aja lho(Belum plus ongkir,kecuali daerah Semarang Free Ongkir) Untuk kedepannya akan ada e-booknya (tp untuk saat ini baru buku cetaknya dulu)

Saturday, April 9, 2016

Kenapa Banyak Orang Mengejek?

Sebetulnya mau buat judul soal bullying tapi ya rasanya judul itu sudah terlalu banyak (meski judul ini juga sebetulnya sudah ada). Sudah lama juga mau nulis soal ini dan baru bisa terwujud juga saat ini.

Ejekan, kelihatannya sepele bahkan ringan.

Tapi tahukah kamu bahwa itu berdampak panjang?

Contoh kebiasaan mengundang teman kita dengan nama orang tuanya. Akibatnya kita jadi lupa dengan nama asli teman kita dan terus memanggilnya dengan nama orang tuanya. Kalau kita hanya ketemu di sekolah terus nggak masalah. Kalau akhirnya kita terpaksa ke rumah, ketemu orang tuanya dan berkata "Pak, Saefulnya ada?" (padahal Saeful itu nama bapaknya). Apa yang akan terjadi?

Kalau orang tuanya paham langsung memanggil teman kita, tapi setelah itu orang tua teman kita bisa memanggil anaknya dan tanya "kenapa temenmu lebih hapal nama bapak daripada nama mu?"

Kalau orang tua yang mudah tersinggung pastinya langsung marah-marah karena :

1. Memanggil langsung namanya,tidak didahului dengan sebutan "bapak" atau "ibu"

2. Dianggap tidak sopan

3. Dikira orang tua kita tidak pernah mendidik soal sopan santun sama sekali

Ini baru sebatas marah. Kalau sudah menyangkut menghilangkan nyawa orang?Apa ya mau saling menyalahkan satu sama lainnya?

Pernah ada berita isinya tentang seorang anak SD memilih bunuh diri setelah teman-temannya mengejeknya karena bapaknya berjualan bubur ayam. Apakah bapaknya salah kalau jualan bubur ayam? Nggak kan? Lantas kenapa masih ada yang mengejek soal pekerjaan bapaknya. Masalah ini pun aku dulu pernah mengalaminya dan memang mengganggu tapi aku diamkan saja. Urusan orang lain apa sih sampai mengejek soal diri kita dan keluarga kita? Belum tentu yang mengejek lebih baik dari kita. 

Masih banyak lagi contoh ejekan lainnya (yang tentunya kalian tahu sendiri karena akan terlalu panjang tulisan ini kalau dijabarkan satu-persatu). Sebetulnya ada hal lucu dibalik orang yang mengejek atau yang memang hobinya mengejek. Eh apanya sih yang lucu? Sebetulnya mereka melakukan itu karena :

Memang mereka hanya bisa melihat kejelekan orang lain

Paling suka dan bakalan ketawa keras kalau sudah menyangkut masalah kejelekan, kekurangan, atau hal-hal buruk lainnya dari orang lain. Kalau mereka sendiri yang ternyata buruk didepan orang lain? Pasti ada seribu satu alasan buat ngeles. Meski sebetulnya mereka sendiri merasa malu didalam hati. Tapi mereka nggak bakalan kapok lagi buat terus menerus mengejek orang lain. 

Ada rasa iri sebetulnya dari mereka

Lho jangan dikira orang mengejek karena nggak menyimpan sesuatu. Mereka sebetulnya ada yang iri dengan teman-temannya akhirnya mengejek kekurangan yang dimiliki orang lain. Kenapa begitu? Karena hanya itu yang bisa mereka lakukan. Kalau mereka bilang "iih enak bisa seperti itu" rasanya langsung jatuh dah harga diri mereka. Makanya untuk menjaga hal itu mereka memang sengaja mencari kejelekan orang lain supaya bisa jadi bahan ejekan.

Sebetulnya mereka butuh perhatian

Duh kasihan kalau yang ini. Sebetulnya mereka suka kalau yang diejek jadi marah apalagi kalau ada temen lainnya yang mendukung ejekannya ke sasarannya. Wah jadi tambah senang tuh....padahal dibalik itu mereka mau bilang "woii perhatiin gue dong". Sebetulnya cara paling efektif kalau menghadapi orang seperti ini cukup didiamkan aja. Dia bakalan bingung dan coba cari cara biar orang lain memperhatikan dia entah pakai cara fisik (seperti mendorong temannya) atau apalah agar mendapat perhatian dari orang lain.

Itu tadi alasan-alasannya. Ada yang mau menambahkan lagi? Bisa tulis di komentar. 

Ejekan bukanlah masalah yang sepele. Karena dampaknya bisa membawa seseorang ke arah depresi, terus menjadi anti sosial, terakhir bunuh diri. Memang tidak selalu bunuh diri malah jadi kasus pembunuhan dimana orang yang sering mengejek jadi korban pembunuhan karena dia tidak sadar bahwa orang yang selama ini sering diejek, memiliki potensi untuk membunuh orang lain. Ini serius lho...bukan sekedar omong kosong.

Didalam agama apapun juga melarang keras yang namanya mengejek satu sama lainnya kan? Yuk kita STOP saling mengejek satu sama lainnya. Nggak ada gunanya juga. Bikin lucu? Bikin ketawa? Ah mending tonton stand up comedy atau lawakan lainnya. Ejekan bukanlah salah satu hiburan tapi bisa membawamu ke hal-hal yang nggak enak. Bahkan bisa bawa ke RS atau ke tempat lainnya....?

Sebuah renungan dari tangan yang paling gatel buat nulis ini. Semoga bukan lagi sekedar bahan bacaan tapi bahan renungan juga biar nggak ada lagi yang bertanya "kenapa aku ditusuk pisau? Kenapa aku di sekap? Kenapa aku disakiti?" Aku hanya bercanda...eh yakin hanya bercanda? Bercanda atau mengejek?

Thursday, January 7, 2016

Dia Saja Tak Mengeluh dengan Kehidupannya

Entahlah bingung kali ini aku mau memberi judul apa. Postingan kali ini terinspirasi dari seorang anak laki-laki yang selalu ceria dalam keadaan apapun.
Aku dan teman-teman kantor sudah lama merencanakan untuk menengok anaknya teman kami yang seminggu lalu sakit sampai kejang-kejang dan dibawa ke rumah sakit. Sebenarnya kita mau menengok pas anaknya masih di rumah sakit, tapi gegara kerjaan kantor yang luar binasa eh luar biasa jadilah tertunda. Baru bisa menengok setelah anaknya pulang dari rumah sakit.
Anak ini senang ketika kami datang, tak lupa kuberikan mainan yang sudah kami beli sebelumnya. Dia mengajak kami untuk ikut bermain lego yang kami berikan. Wajahnya selalu gembira dan dia sempat menunjukkan bekas jahitan di badannya. Sebenernya itu bukan bekas jahitan operasi tapi dia diberi semacam selang khusus oleh pihak rumah sakit (ibunya sempat menjelaskan itu untuk apa tapi aku gak paham). Sang ibu pun bercerita kalau dia lega anaknya tidak harus menjalani operasi. Karena anak ini juga menderita hydrocepalus (maaf kalo tulisannya salah), saat sakit sampai dibawa ke rumah sakit dulu harus menjalani operasi untuk mengeluarkan cairan di kepalanya.
Anak laki-laki ini terus mengajak kami untuk ikut bermain lego bersamanya. Dia tidak bisa diam sedetikpun. Berbeda dengan adiknya yang lebih kalem bahkan lebih banyak diamnya. Wajah cerianya selalu nampak, tidak berubah sedikitpun. Temenku mengakui memang kalau anaknya berkebutuhan khusus.
Anak ini tidak pernah mengeluh tentang kehidupannya itu yang aku dapatkan. Dia bisa senang, bahkan ketika aku sibuk bermain hp pun dia mengajakku lagi untuk ikut bermain lego dengannya.
Aku perlu banyak belajar dari anak ini, terlepas dari masalah dia normal atau nggak normal. Kehidupan terkadang menyakitkan terutama bagi yang sedang tertimpa masalah. Tapi tanpa adanya masalah apakah rasa senang itu akan datang? Tentu saja tidak. Sama seperti anaknya temenku itu, dia harus menghadapi bahwa papa mamanya sekarang sdh cerai. Belum lagi ditambah dia kena penyakit yang seenggaknya harus bolak balik ke rumah sakit saat kambuh.
Malah seandainya dia normal baik baik aja....justru dia akan mengeluh dengan keadaannya itu. Dia jadi susah buat tersenyum.
Dengan keadaannya itu pula lah...papa mamanya yang sudah bercerai sekalipun bisa bertemu, bisa berbaikan kembali, bisa saling bekerjasama untuk ikut mengurusnya.
Dua hal yang kudapatkan :
Sesusah apapun hidup kita butuh sesuatu untuk melepas beban itu dan sesuatu itu ternyata senyuman
Menyatukan seseorang tidak melulu harus melalui pernikahan malah dari anak2nya yang berkebutuhan khusus membuat dua orang yang sudah berpisah sekalipun bisa saling membantu untuk mengurusnya

Friday, December 25, 2015

Kenapa Masih Bertahan di Tarot?


Seperti yang pernah kutulis di Facebook resmiku (ceilee facebook resmi kek artis aja) bahwa aku mau bahas kenapa masih bertahan di Tarot? Padahal dari segi penghasilan aja udah okeee pake banget. Apa ya masih kurang?

Perlu aku jelaskan disini. Sebenarnya nggak kurang sih kalau masalah penghasilan berlebih iya lho. Bisa buat belanja ini itu macem2 kalau mau. Nah tapi aku butuh sesuatu yang lain. Apa sih? Ketemu org banyak ngobrol ngalor ngidul (ngobrol macem2). Emang ketemu nasabah nggak ngobrol banyak? Ya banyak cuma mereka kan juga banyak kegiatan dan aku yang mendatangi mereka. Jadi kadang lihat para nasabah yg nggak betah saat kita berlama-lama di rumah mereka.

Beda dg sesi pembacaan tarot mereka yang bener2 berusaha meluangkan waktu bahkan gak keberatan berjam2 lah aku sama mereka (padahal ada tarif sekali pertemuan dihitung per jam). Kadang sampe garuk2 kepala sendiri (eh ketombean ya...) sambil ngomong dalam hati : eh kok bisa yaaa. Ini yang jadi alasan utama yaitu manusia tetap membutuhkan namanya sosialisasi secara khusus. Jadi gak ada campur aduknya dengan pekejaan.

Itu alasan pertama....

Nah lanjut alasan kedua ini lebih ke arah ada rasa ingin memanfaatkan apa ya ng...sebut aja "Gift" dari Allah gitu ya. Aku juga bingung dibilang kelebihan ya sombong paling2 kelebihan berat badan iya dah. Dibilang dukun ya nggak salah nggak bener serba susah yaaa. Ini pun terjadi setelah menyadari bahwa aku punya Gift itu gitu lhoo (kalo gak sadar ya gak bakalan jadi tarot reader). Kenapa kalau kita punya sesuatu tidak digunakan untuk menolong orang lain?

"Gift" ini baru aku sadari saat kuliah semester 4, saat2 dimana mulai denger2 suara2 yg entah darimana dan suara itu ternyata menunjukkan suatu pertanda. Sampai akhirnya betulan terjadi di waktu yang akan datang. Saat lihat banyak makhluk halus bersliweran bahkan sebelum tidur pun banyak dari mereka yang malah ngajakin main ke dunia mereka (udah ngantuk berat nih coy malah diajakin main). Biasalah...itu terjadi karena di dunia mereka malam itu waktunya aktifitas kalau pagi waktunya tidur berkebalikan dg dunia manusia.

Ketika saat-saat itu sempat galau. Buat postingan di blog (postingan soal itu udah kuhapus) supaya dapet saran dari komentator gimana nih ngadepin diriku yang tiba-tiba jadi begini. Siapa sih yang mau tahu kedepannya apa yang terjadi? Ya kalau bagus, kalau jelek bisa bikin jantung mau copot. Sampai terakhir udah begitu sebelnya mau dihilangkan aja kali ya. Bikin capek aja gimana nggak mau tidur ntar ada yang menyapa. Mau tidur lagi ntar yang dari tanah kosong lewat mana muka ancur lagi haaah. Terus terus apa lagi coba?

Aku juga sering sharing ke orang-orang yang sama kek aku. Bagaimana menghadapinya bahkan ada yang menyarankan aku jadi healer (pengobatan melalui transfer energi jarak jauh) karena energiku cocok disana katanya. Cuma latihannya memang gak segampang itu sih perlu bolak balik dan selama ini blm pernah berani melakukan itu buat orang lain. Selain menguras energi juga sekarang jarang latihan.

Ya udah deh aku diemin aja sampai lama berhubung kuliah juga sdh mulai sibuk. Belum lagi ada orang-orang yang meminta aku nerawang ini itu batu lah apa lah untung bukan tokek yang diterawang (emang mesin X Ray ya bisa nerawang). Meski itu nggak menghilang sih tetap ada. Sampai akhirnya menemukan kartu Tarot itulah mulai dari sekedar iseng, pengen cari duit tambahan sampai berhubungan dengan Gift itu tadi. Semula ya gak mau mikir pake Gift itu dan ternyata otomatis keluar saat buka Tarot. Toh ya basicnya lebih mengarah ke psikologi bukan ke yang lainnya.

Sampai sebelum aku wisuda, aku sempat kepikiran buat menghilangkan Gift itu lagi. Kudatangi salah satu dosenku yang konon kata para mahasiswa memang biasa mengobati orang-orang. Aku bilang soal itu dan ini jawaban beliau :

KAMU DIBERI SESUATU YANG BELUM TENTU ORANG LAIN PUNYA. BAHKAN ORANG LAIN MEMBURU ITU SUPAYA DIBILANG SAKTI. NAH KENAPA MALAH KAMU MAU HILANGKAN? SAYA DULU PERNAH DIMINTA SEPERTI ITU OLEH ORANG KARENA TERGANGGU ANAKNYA BISA SAMA SEPERTI KAMU. TAPI SAYA BILANG TIDAK BISA. INI ADALAH PEMBERIAN TUHAN DAN KALAU SAYA MENGHILANGKANNYA SAYA SAMA SAJA MENGHALANGI KEHENDAK TUHAN. LATIHLAH TERUS, GUNAKAN ITU UNTUK MENOLONG ORANG LAIN.

Aku hanya bisa diam sambil mengangguk-anggukkan kepala. Memang benar apa yang dikatakan oleh dosenku itu. Sejak saat itu aku tak ingin menghilangkan Gift itu. Aku terus gunakan disaat menggunakan Tarot ataupun tidak. Karena Gift itu bisa tiba-tiba muncul disaat ada sesuatu yang harus aku sampaikan ke orang lain.

Apa kamu nggak takut pakai Tarot itu melampaui Allah?

Ini pertanyaan menarik yang sayangnya belum sempat aku jawab secara langsung didepan orangnya. Its OK aku jawab lewat postingan ini aja dan ini menjadi alasan ketiga kenapa aku tetap bertahan di Tarot meski penghasilan sebagai pegawai Bank sudah OK.

Sebelumnya harus tahu dulu apa sih yang dimaksud dengan bacaan tarot? Bacaan tentang masa depan? NO!! Tarot membaca apa yang kamu lakukan sekarang dan dulu. Kalaupun ada kedepannya terbaca itu juga akibat perbuatan dari si penanya bukan si pembaca Tarotnya. Sang pembaca Tarot hanya membaca apa yang keluar di kartunya mengartikan setiap simbol dan menyesuaikan dg pertanyaan yang ada.

Contoh : ada orang yang ngeluh kenapa sampai sekarang masih jomblo (padahal aku ya jomblo tapi kok santai ya). Dia cerita panjang lebar soal penampilan udah oke, sikap juga baik, tp kenapa msh jomblo. Dibukalah kartu Tarotnya dan ternyata masalahnya sebenernya ada cowok yang naksir dia tapi ditolak karena nggak cocok, nggak sreg lah dll. Orang yang bertanya itu akhirnya hanya menganggukkan kepala dan bilang : iya banyak yang mendekati tapi kurang cocok. Nah lho jd yang bikin dia jomblo siapa?

Contoh kedua : ada orang yang tanya ekstrem dah kenapa dia selalu sial dan apakah kedepannya juga bakalan sial? Dibuka kartunya dan keluarlah kartu yang menujukkan bahwa kesialan itu berawal dari dirinya sendiri. Kenapa? Dia berbuat curang, dia menjegal temannya di kantor supaya dapat posisi baik, dia apalah....Nah ketika dia merasa sial terus siapa yang mau disalahkan? Tuhan? Nggak kan...orang ini semula nggak mau ngaku tapi setelah dibuka semua kartunya dijelaskan satu-satu mulai dah dia nggak tahan dan mau menghilangkan kesialan itu. Caranya? Ya berbuat baiklah. Lama-kelamaan sialnya hilang sendiri. Seperti itulah....

Ini nggak berlaku buat yang dibacakan Tarotnya tapi ini juga bisa jadi pelajaran bagi si pembaca Tarotnya. Kenapa? Dengan begini si pembaca Tarot termasuk aku bisa paham ooh iya aku dulu juga pernah begitu mengalami apa yang dialami sama si penanya. Aku bisa kasih saran ke dia dan aku juga bisa kasih saran ke diriku sendiri. Nggak trus ngerasa sok suci sok sakti dan ogah menasehati diri sendiri. Nggak gitu juga keless (kelek teles : ketiak basah).

Sudah cukupkah menjawab pertanyaan2 seputar kenapa aku masih bertahan di Tarot? Kalau kurang ajukan pertanyaan di komentar. Komentar yang terlalu maksa apalagi pake dalil agama bla bla menyinggung SARA nggak aku balas dihapus malah iya. PEACE...kita damai lho. Agama itu ada untuk pedoman hidup kita biar nggak nyasar tapi nggak bikin kita kek robot kan? Luwes aja...